Kemunafikan dan khianat itu saudara kembar. Munafik dan pengkhianat itu satu orang. Tidak ada pengkhianat kecuali orang munafik, dan tidak ada orang munafik kecuali ia adalah seorang pengkhianat.

Kemunafikan menampilkan dirinya, pengkhianatan menyembunyikan dirinya. Kemunafikan menghiasai wajah manusianya dengan keindahan, keharuman dan sikap manis. Khianat mengincar dari balik keindahan itu.

Orang munafik mencium tanganmu, ketika ia membutuhkanmu. Orang munafik tiba-tiba menggigit tanganmu, ketika jelas baginya bahwa engkau tidak memiliki kekuatan dan akan segera bisa dicampakkan olehnya.

Orang munafik menampilkan kesetiaan palsu di hadapanmu, dan menamparkan pengkhianatan di depan kelemahanmu. Orang munafik akan menjilati bokongmu siang malam dan pagi sore, tetapi begitu ia melihat peluang — ia akan tikam punggungmu dari belakang, akan jegal kakimu dan esoknya ia perhinakan kamu.

Orang munafik dengan wajahnya yang manis dan sikapnya yang memuji-muji, memeluk tubuhmu, menjunjung-junjung perasaanmu dan melambungkan kebanggaanmu. Ia juga selalu dengan senang hati engkau gendong-gendong, engkau sanjung-sanjung, engkau guyuri tepuk tangan. Beberapa saat kemudian engkau baru menyadari bahwa engkau hanya dipakainya, digunakannya, dimanfaatkannya.
————————————————————————-

“Di dalam demo-demo krusial; tidak usah Imam Khomeini, tidak usah Muammar Khadaffy, tak usah orator aktivis pro demokrasi  yang memimpin gerakan mahasiswa di Tiananmen. Siapapun saja yang datang, meskipun ia seorang perampok atau pemabok entah dari mana asalnya, asalkan ia naik mimbar dan memaki-maki pemerintah, maka para demonstran akan bertepuk tangan meriah, akan menjunjung-junjungnya. Kemudian ketika hari-hari itu berlalu,  para demonstran akan merasa ditilap, ditinggalkan….”
—————————————————————————

Kita benar-benar harus sangat belajar kembali untuk menilai manusia. Untuk membedakan mana pahlawan dan mana pengkhianat. Untuk memulai kesadaran historis, bahwa reformasi bukan gerakan instan, bukan sudden movement, melainkan sesuatu yang ada tahap-tahapnya, ada akumulasi dan gradasi atmosfirnya, ada infrastruktur kesadaran dan penyadarannya yang dibina bertahun-tahun sebelumnya.

Rakyat dan mahasiswa benar-benar perlu belajar menumbuhkan kesanggupan untuk membedakan antara ombak di permukaan laut dengan gelombang dan arus di bawah permukaan.***** catatan tai kucing,2004

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment. Login »