Archive for October, 2008

Tak seorang pun dapat mencapai Kebenaran

sebelum ia sanggup berpikir dengan rasio akalnya dan rasio hatinya bahwa Jalan yang diambilnya itu sendiri mungkin salah ”

( Imam Ali Ibn Abi Thalib kw - kitab Nahj Al balaghah)

Kebanyakan orang berpikir bahwa apa yang mereka yakini saat ini sebagai Jalan kebenaran sudah merupakan kebenaran yang mutlak tanpa mesti diuji lagi kadar kebenarannya..

Keyakinan seperti ini tentu saja semu, karena bagaimanapun orang-orang seperti ini bisa dianggap sebagai orang-orang yang malas tidak mau belajar dari pengalaman, atau orang-orang yang Al-Quran menyebut mereka hanya mengikuti persangkaan khayali dari nafsu mereka..

“Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu (al-zhann) tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran.”

(QS Yunus [10] : 36).

Al-Quran menyebut keyakinan yang tak teruji itu sebagai al-zhann.

Di dalam terjemahan al-Quran-nya; Syeikh Yusuf Ali menerjemahkan kata zhann ke dalam bahasa Inggris dengan kata: fancy,  yang jika diterjemahkan menjadi : khayalan, fantasi, angan-angan atau perkiraan

Sebagian banyak orang masih ada yang mengira bahwa kebenaran bisa diperoleh tanpa harus menggunakan Nalar Akal…Apakah pemikiran seperti ini bisa dibenarkan??..

Apakah mungkin kita bisa mencapai Jalan Kebenaran tanpa mesti mengujinya terlebih dahulu??..padahal Nabi Ibrahim as pun tidak mengenal kebenaran kecuali setelah mengujinya dengan nalar akal.

Apakah bisa seseorang merasa yakin atas jalan keputusan yang diambilnya tanpa mengolahnya terlebih dulu di dalam kepala sekaligus kalbunya ??

*) Belajar Dari Nabi Ibrahim as
Mari kita lihat Al-Quran yang menceritakan bagaimana Nabi Ibrahim as dapat memperoleh kebenaran melalui proses pemikiran :

“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin.

Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.” Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku.” Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat.”

Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar.” Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.

(QS. Al-An’am [6]: 75-79)

*) KERAGUAN UNTUK MENGUJI KEBENARAN

Al-Syahid Murtadha Muthahhari mengatakan : “ Sifat khas kebenaran, tentu saja, ialah bahwa keraguan dan ketidakpercayaaan membantu untuk membuatnya justru semakin jelas. Keraguan mendahului kepercayaan dan kebimbangan melahirkan penelitian.”

Tidak semua keraguan itu buruk, karena sebenarnya ada 2 macam keraguan, yaitu : keraguan konstruktif dan keraguan destruktif.

Keraguan konstruktifadalah keraguan yang muncul dari kesadaran kritis dan hasrat untuk mencari tau dan meneliti keyakinan akan sesuatu yang selama ini dipegangnya. Infrastruktur keraguan jenis ini merupakan sejenis keyakinan akan dirinya sendiri. Ia tidak ingin bergantung pada pendapat orang lain, seolah-olah ia ingin membuang hal-hal yang selama ini diyakininya dengan berusaha mencari banyak pembuktian dengan meneliti setiap detil apa yang dianggapnya benar saat itu.

tetapi sebaliknya, jika suatu keraguan tidak disertai hasrat untuk membuktikan keyakinan yang selama ini dipegangnya, maka keraguan seperti ini adalah keraguan yang destruktif yakni: keraguannya orang yang tidak memiliki pengetahuan apa-apa.

seperti kata pepatah : He who knows nothing, doubts nothing”-> Orang yang tidak tahu apa-apa, juga tidak akan pernah meragukan apa-apa!

Keraguan merupakan awal, bukan akhir kearifan, karena dengan keraguanlah akhirnya kita bisa tiba di gerbang kebenaran. karena,

Siapa pun yang mengawali kehidupan ini dengan keyakinan-keyakinan,

niscaya dia akan mengakhirinya dalam keraguan,

namun jika dia memulainya dengan keraguan-keraguan,

niscaya dia akan mengakhirinya dalam keyakinan.

Dubito ergo cogito; cogito ergo sum - ( I doubt, therefore I think; I think therefore I am) begitu deh yang dikatakan oleh Rene Descartes

Comments No Comments »

Salah satu kritik paling sering yang saya terima dari beberapa gelintir orang;termasuk wanita yang sangat saya cintai, adalah saya dianggap terlalu mengagungkan logika pikiran, .. karena kata mereka, pikiran manusia itu terbatas kemampuannya.

Lha saya malah bingung jadinya… Sudah tau kemampuan pikiran itu terbatas, kok malah dibatas-batasi lagi?.. harusnya kan di “geber”  terus sampai batas maksimal kemampuannya..!?

Ini sama dengan ungkapan hidup ini sudah sulit, ngapain pula makin dipersulit?

Ada kesan seakan keagungan Tuhan di “atas” sana, akan “terganggu” karena kebebasan berpikir itu..Yang menghina Tuhan itu sekarang siapa sih? Bukankah pikiran seperti itu justru sudah mengerdilkan keagungan Tuhan, seolah-olah Dia bisa diganggu oleh keliaran pikiran manusia?

Seperti parasut, pikiran hanya bermanfaat ketika ia terbuka. Seperti mesin, pikiran mengeluarkan output power terbaik dalam RPM tertinggi.

Namun tentu saja, kebebasan berpikir harus juga disertai dengan pengakuan akan kebebasan berpikir orang lain…..

 

 

* Nulisnya segini aja dulu. Mo mikir lagi soalnya..

Comments No Comments »

 

 _______________________________________________________________

No te amo como si fueras rosa de sal, topacio o flecha de claveles que propagan el fuego: I do not love you as if you were salt-rose, or topaz, or the arrow of carnations the fire shoots off

Te amo como se aman ciertas cosas oscuras, secretamente, entre la sombra y el alma. I love you as certain dark things are to be loved, in secret, between the shadow and the soul.

Te amo como la planta que no florece y lleva dentro de sí, escondida, la luz de aquellas flores,…  I love you as the plant that never blooms but carries in itself the light of hidden flowers

y gracias a tu amor vive oscuro en mi cuerpo el apretado aroma que ascendió de la tierra …. and thanks to your love a certain solid fragrance, risen from the earth, lives darkly in my body.

Te amo sin saber cómo, ni cuándo, ni de dónde,… I love you without knowing how, or when, or from where

Te amo directamente sin problemas ni orgullo: así te amo porque no sé amar de otra manera…  I love you straightforwardly, without complexities or pride; so I love you because I know no other way…

Sino así de este modo en que no soy ni eres,…. Than this: where I does not exist, nor you,

tan cerca que tu mano sobre mi pecho es mía,….  so close that your hand in my chest is my hand

tan cerca que se cierran tus ojos con mi sueño … so close that your eyes close as I fall asleep

BY :Pablo Neruda: Soneto XVII

_________________________________________________________________

Pernah kau kusanjung seindah mawar? Karena memang bukan gemulai kelopakmu yang membuat aku berlutut, atau kupicingkan mata menahan serbuan kemilau, seakan kau kurindu karena secemerlang batu berlian, atau kupasang perisai rasa membendung nyala api yang memercik dari panah anyelirmu yang runcing?

Ini cinta yang dulu kukira hanya ada di kitab-kitab kumal penyair, di surat -surat yang tak pernah terkirimkan. Aku menemukannya, dan kuundang kau bersama-sama menyerahkan diri pada sesuatu dalam kegelapan yang tak membutuhkan tatap, tegak di luar spektrum warna; rahasia di garis batas bayangan dan jiwa. Aku bukan petualang yang jumawa memasuki gua, untuk kemudian mati ditebas ketakutannya sendiri, tetapi karena merebut hatimu, adalah sebuah perang di mana kebinasaan pun kurayakan sebagai kemenangan..

Kau bungaku yang tak pernah mekar, rapat mengatup kuncup menunduk, tapi telah kutemukan dalam dirimu cahaya dari bunga-bunga tersembunyi, wangi yang tak menyisakan ruang untuk menghela napas…

Terima kasih, Cinta,. untuk udara hangat yang bermunculan dari lembabnya tanah, hidup, melata, secara gelap dalam tubuhku, menjalari ke nadiku yang gemetar dingin di udara pengap..

Inilah cinta yang kutunggu, yang membetahkan pungguk merindu bulan, yang membuat kesatria tabah mendekati tiang gantungan, yang tiba-tiba ada untukmu, tanpa kutahu mengapa, atau kapan, atau dari mana..

Aku mencintaimu penuh, memberat tanpa kupikul apa-apa, lurus dalam curam dan cadasnya, sederhana dalam kerumitan yang tak terterakan dengan seribu metafora,  bertahta di hati tanpa macam-macam kbangaan, tanpa sorak sorai, kecuali pesta sunyi di halaman pikiranku..

Sambutlah, walau begini cara cintaku mendekatimu,

karena belum ditemukanya jalan lain, dan waktuku menyusut untuk kembali mengundi takdir

Aku mencintaimu karena kutahu tak ada jalan lain selain ini: di mana aku tiada, tiada juga kau, begitu dekat sehingga tanganmu di dadaku adalah tanganku, begitu akrab sehingga ketika matamu terpejam, akupun jatuh tertidur

PS: puisi diatas cuma “bajakan dan hasil modifikasi” dari puisi Pablo Neruda yang berbahasa asli Spanyol….

 

Comments No Comments »