Author Archive

 

 _______________________________________________________________

No te amo como si fueras rosa de sal, topacio o flecha de claveles que propagan el fuego: I do not love you as if you were salt-rose, or topaz, or the arrow of carnations the fire shoots off

Te amo como se aman ciertas cosas oscuras, secretamente, entre la sombra y el alma. I love you as certain dark things are to be loved, in secret, between the shadow and the soul.

Te amo como la planta que no florece y lleva dentro de sí, escondida, la luz de aquellas flores,…  I love you as the plant that never blooms but carries in itself the light of hidden flowers

y gracias a tu amor vive oscuro en mi cuerpo el apretado aroma que ascendió de la tierra …. and thanks to your love a certain solid fragrance, risen from the earth, lives darkly in my body.

Te amo sin saber cómo, ni cuándo, ni de dónde,… I love you without knowing how, or when, or from where

Te amo directamente sin problemas ni orgullo: así te amo porque no sé amar de otra manera…  I love you straightforwardly, without complexities or pride; so I love you because I know no other way…

Sino así de este modo en que no soy ni eres,…. Than this: where I does not exist, nor you,

tan cerca que tu mano sobre mi pecho es mía,….  so close that your hand in my chest is my hand

tan cerca que se cierran tus ojos con mi sueño … so close that your eyes close as I fall asleep

BY :Pablo Neruda: Soneto XVII

_________________________________________________________________

Pernah kau kusanjung seindah mawar? Karena memang bukan gemulai kelopakmu yang membuat aku berlutut, atau kupicingkan mata menahan serbuan kemilau, seakan kau kurindu karena secemerlang batu berlian, atau kupasang perisai rasa membendung nyala api yang memercik dari panah anyelirmu yang runcing?

Ini cinta yang dulu kukira hanya ada di kitab-kitab kumal penyair, di surat -surat yang tak pernah terkirimkan. Aku menemukannya, dan kuundang kau bersama-sama menyerahkan diri pada sesuatu dalam kegelapan yang tak membutuhkan tatap, tegak di luar spektrum warna; rahasia di garis batas bayangan dan jiwa. Aku bukan petualang yang jumawa memasuki gua, untuk kemudian mati ditebas ketakutannya sendiri, tetapi karena merebut hatimu, adalah sebuah perang di mana kebinasaan pun kurayakan sebagai kemenangan..

Kau bungaku yang tak pernah mekar, rapat mengatup kuncup menunduk, tapi telah kutemukan dalam dirimu cahaya dari bunga-bunga tersembunyi, wangi yang tak menyisakan ruang untuk menghela napas…

Terima kasih, Cinta,. untuk udara hangat yang bermunculan dari lembabnya tanah, hidup, melata, secara gelap dalam tubuhku, menjalari ke nadiku yang gemetar dingin di udara pengap..

Inilah cinta yang kutunggu, yang membetahkan pungguk merindu bulan, yang membuat kesatria tabah mendekati tiang gantungan, yang tiba-tiba ada untukmu, tanpa kutahu mengapa, atau kapan, atau dari mana..

Aku mencintaimu penuh, memberat tanpa kupikul apa-apa, lurus dalam curam dan cadasnya, sederhana dalam kerumitan yang tak terterakan dengan seribu metafora,  bertahta di hati tanpa macam-macam kbangaan, tanpa sorak sorai, kecuali pesta sunyi di halaman pikiranku..

Sambutlah, walau begini cara cintaku mendekatimu,

karena belum ditemukanya jalan lain, dan waktuku menyusut untuk kembali mengundi takdir

Aku mencintaimu karena kutahu tak ada jalan lain selain ini: di mana aku tiada, tiada juga kau, begitu dekat sehingga tanganmu di dadaku adalah tanganku, begitu akrab sehingga ketika matamu terpejam, akupun jatuh tertidur

PS: puisi diatas cuma “bajakan dan hasil modifikasi” dari puisi Pablo Neruda yang berbahasa asli Spanyol….

 

Comments No Comments »

Sangat tidak mudah mengambil keputusan apakah korupsi adalah milik para koruptor ataukah milik kita bersama? .. Juga tidak gampang mengukur kadarnya sebagai “penyakit sistem” (struktural), sebagai “penyakit manusia”, atau “penyakit budaya” suatu masyarakat yang berada dalam sistem yang sama… Ia sangat cair,bahkan bisa seakan-akan merupakan serbuk yang rata menabur, atau bagaikan asap halus yang tak kasat mata,sehingga tidak bisa serta merta bisa disimpulkan bahwa perilaku korupsi adalah semacam anomali atau penyakit khusus yang berlaku pada sejumlah orang, ataukah ia memiliki “infrastruktur” budaya yang memang mendarah daging dimasyarakat  disemua kelas dan status sosial secara lebih menyeluruh pada kehidupan negara kita….

Darah daging itu bisa jadi tak hanya berskala budaya atau kebudayaan, bisa jadi ia sudah merupakan peradaban. Terutama apabila disepakati bahwa korupsi materiil hanyalah salah satu output “kecil” dari dasar-dasar jiwa korupsi yang juga bisa menemukan manifestasinya pada perilaku lain, pada pola berpikir, cara pandang, cara memahami, cara merasakan, bahkan cara memahami dan melaksanakan iman. Tak pernah berhenti kita bertanya: di kedalaman jiwa manusia, apakah korupsi itu peristiwa mental, peristiwa ilmu, peristiwa akhlak, peristiwa iman, atau apa??? …

Kalau sudah sampai ke kompleksitas itu, kita yang di panggung berteriak “Wahai Kaum Korupto!! ”  tidak otomatis kita sendiri bukan koruptor…Atau kekhusyukan seseorang dalam beribadah, status mulia seseorang dalam kegiatan keagamaan, citra bersih seseorang dalam imaji publik – tidak serta merta mengandung arti bahwa yang bersangkutan berada di luar lingkaran, jaringan dan sistem korup. Bahkan kita yang bertugas memberantas korupsi, perlu mengaktifkan terus menerus kewaspadaan diri untuk menjamin bahwa dalam berbagai konteks dan nuansa itu langkah-langkah kita benar-benar bebas dari potensialitas korupsi. Apalagi sejumlah pagar eksternal atau internal yang tak selalu bisa kita atasi membuat langkah-langkah kita tampak di mata orang lain sebagai “tebang pilih”.

…………….

Dulu Suharto bikin Keraton Kemusu; keraton sempalannya nyayogyakartohadiningrat  dari tiga generasi sebelum yang sekarang. Keratonnya dikasih nama Republik, baju kebesarannya sebagai Raja dikasih label Presiden, dengan “uborampe” (kelengkapan basa-basi) mengumpulkan sekian ratus orang menjadi dua kelompok yang dikasih papan nama “MPR ” dan “DPR ”, dan akhirnya hanya seorang Raja yang jauh-jauh hari sudah merancang dan membangun makamnya di sebuah bukit…

Rakyat Indonesia tidak keberatan dengan “Keraton” berlabel “Republik” itu, karena jiwa raga mereka adalah “abdi dalem” dan “kawulo” sampai hari ini.

Dan sampai hari inipun kaum intelektual juga tidak pernah mengakui bahwa ORBA adalah “Keraton”, karena diam-diam di dalam kandungan mentalnya masih menyimpan rasa “andhap asor ” atau inferioritas “kawulo ” ; masih menyimpan mitologi subyektif untuk “takut ”, “pakewuh “ atau “segan ”,..

juga karena sejak semula mereka diam-diam berikhtiar bagaimana menjadi “abdi dalem” OrBa agar bisa ikutan Korupsi. Kalau Sang Prabu Haryo Suharto tidak menerima proposal lamaran mereka untuk jadi abdi dalem di Keraton Dinasti OrBa, barulah mereka tampil di media-media massa sebagai Oposan/Lawan yang kencang berteriak…“Suharto Korup !! Abdi-Abdi Dalem OrBa, Korup !!”

Kemudian, setelah Prabu Haryo Suharto Lengser karena dihantam dari sana-sini, dari External maupun Internal Keraton, dari kalangan jelata,mahasiswa,preman sampai militer..dari Cuaca dan Iklim Perekonomian Dunia yang bergeser kearah jurang krisis moneter yang mempengaruhi stabilitas power kedinastiannya yang lalu kemudian di tambahi lagi pergesekannya oleh lawan-lawan politik yang dulu lamarannya di tolak sang prabu dengan membangkit-bangkitkan rasa sakit dari borok kesenjangan sosial dikalangan rakyat keraton yang sudah lama menunggu kesempatan membalaskan luka mereka dengan kebebasan hewani utk menjarahi orang-orang china ; baik harta maupun wanita-wanitanya…….lalu ketika Suharto sudah tidak lagi menjadi Prabu, mereka yang dulu penjilat-penjilat setianya merubah wajah mereka dengan wajah-wajah yang lebih “reformis”-mereka yang dulu ditolak lamarannya menjadi bagian penjilat Suharto mulai sibuk membenahi penampilan mereka utk bersiap duduk dikursi-kursi Keraton yang ditinggalkan Suharto: untuk meneruskan kekuasaan dan tradisi Korupsinya.

tulisan ini bukan tuduhan, juga saya harap tidak menambah persoalan. Ini sumbangan kewaspadaan, demi kebangkitan atau totalnya kehancuran kita bersama.

view ini sekadar pintu awal untuk membuka kemungkinan besar kenyataan yang perlu kita teliti dengan jujur bahwa kasus-kasus korupsi yang dijaring KPK hanyalah sejumlah cipratan kecil dari budaya dan peradaban korupsi. Bangsa kita terjebak dalam kesalahan manajemen sejarah yang menggiring mereka melakukan korupsi sejak “dini ”. Sebelum mengKorupsi uang dan harta Negara, kita sudah melakukan korupsi iman, ilmu, cara berpikir, sejatinya isi hati, setiap jenis perilaku dari yang sehari-hari kultural sampai yang kenegaraan dalam konstitusi dan birokrasi….

pergantian demi pergantian dinasti penguasa di negara ini belum ada yang bisa sepenuhnya menerapkan keunggulan mentalnya..bagaimana mungkin kita bisa hidup tidak punya motor, mobil, rumah bagus, laptop, Handphone ? ; bagaimana mungkin kita mengelak dari arus besar kemewahan, hedonisme, gebyar dan gemerlap??..maka untuk mendapatkan itu semua, bakat tradisi korupsi akhirnya terus terterapkan ke wilayah-wilayah lain yang masih mengandung ketidak-majuan dan ketidak-mudahan…Dengan hasil korupsi, kita bisa memperoleh berbagai kemudahan dan kemajuan: bisa beli apa saja sebagaimana atau melebihi orang lain, keluarga menganggap kita sukses,Pesantren dan Masjid yang kita bantu dengan hasil jerih payah korupsi kita bisa menyimpulkan kita adalah dermawan… masyarakat yang melihat bisa menganggap bahwa kita adalah “orang yang benar-benar Baik ”: buktinya; punya jabatan, kaya, dan mau bersedekah kepada mereka….

Tetapi ada sedikit pengetahuan yang sudah terlanjur nyantol di saraf otak yang membuat ingatan bahwa kita korup itu menghasilkan sesuatu yang tidak enak dalam hati dan tidak mudah di depan Tuhan. Maka tak cukup bantu Pesantren dan Masjid, kita perlu umroh sesering mungkin, langsung melakukan pendekatan kepada Tuhan. Sebenarnya sedikit-sedikit kita merasa juga bahwa Tuhan tersinggung karena kita tuduh ia bisa kita sogok dengan umroh atas dosa korupsi kita – tetapi karena  yang korup dilakukan oleh banyak teman-teman Indonesia lain, maka kita menjadi sedikit tenang…

Comments 1 Comment »

Ayam Memang Hewan atau Binatang, tetapi ia tidak sekedar hewan atau Binatang. Ia bahkan punya banyak Indentitas dan kemungkinan eksistensi yang lain. Ayam juga makhluk dunia, warga dunia, bagian dari alam, peliharaan Pak Kardjo, temannya ayam lain, putra atau putrinya bapak ayam, ibu ayam, penghuni kandang ayam …Ayam adalah juga hewan, bukan bebek, bukan angsa, bukan burung, bukan anjing, bahkan bukan juga manusia.

Identitas mana yang primer mana yang sekunder, itu soal cara pandang.

Mana kedirian yang ”sekadar”, mana yang ”bahkan”, mana yang ”utamanya”, itu soal konsep nilai dan bisa berbeda- beda…

Sebuah cara pandang bisa meletakkan ayam sebagai ”sekadar ayam”. Namun cara pandang lain menyebut ”mending ayam”, maksudnya: umpamanya ”dibandingkan manusia”……

Lho kok dibandingkan manusia?

Cara pandang itu menemukan bahwa ayam sangat mungkin lebih berguna bagi kehidupan seluruh makhluk alam semesta ini,sekurang-kurangnya bagi umat manusia,dibandingkan manusia sendiri.

Umpamanya masih lebih baik ayam yang tidak mungkin mencuri manusia dibandingkan ”manusia pencuri ayam”….Bahkan ada cara pandang nilai yang meletakkan ayam di wilayah kemuliaan : segala perilaku ayam, langkahnya, makan minumnya,mati hidupnya, 100% menaati sunnahTuhan atau tradisi penciptaan yang di-set up Tuhan. Ayam sepenuhnya patuh kepada Tuhan, sementara manusia dikasih peluang demokrasi: berpikir sendiri, menentukan sendiri keputusan- keputusan hidupnya…

Maka manusia bergerak ke berbagai kemungkinan arah: ada yang menjadi lebih baik dari ayam, ada yang lebih hina dari ayam.Ayam disembelih saja berguna dan hasil masakannya enak dimakan manusia. Sementara manusia tak enak dimakan dan tidak punya posisi nilai untuk baik disembelih. Ketika ayam disembelih, digoreng atau digodok: itulah puncak kemuliaan kemakhlukannya.

Pendalaman ilmu dan nilai seperti ini bisa kita perluas sampai detail dan beribu-ribu halaman kita hasilkan. Substansi yang akan kita ambil adalah bahwa ayam adalah ayam: ia tidak bisa hanya disebut hewan. Si Abdul, Bambang, John, bukan ”hanya” manusia: ia juga orang Arab, Jawa atau Amerika. Ia juga orang Islam, orang Kristen, atau atheis.Pada mereka juga terdapat berbagai dimensi identitas: etnik, agama, budaya, golongan, jenis, spesies, gen, kelompok,… kata Alquran: syu’ub wa qabail. .. Itulah pluralisme.

Kata Alquran lagi: bersuku-suku berbangsa-bangsa itu tak lain tak bukan untuk berkenalan, berempati satu sama lain, saling menghormati, menyayangi, bekerja sama, menjadi negara, kerajaan, PBB, parpol, ormas, perusahaan, warung, masjid dan gereja, gardu, SMS, cyber world, dan segala macam produk kerja sama kemanusiaan yang lain. Maka lima pilar yang menyangga berdirinya Republik Indonesia– rakyat, kaum intelektual,TNIPolri, kekuatan adat dan tradisi serta sumber-sumber keagamaan–harus diterjemahkan secara matang di dalam budaya dan konstitusi, harus dijadikan pijakan setiap inisiatif transformasi sejarah yang menentukan arah pembangunan di bidang apa pun.

Selama 62 tahun merdeka yang pegang kendali hanya dua : kaum intelektual dan tentara-polisi. Rakyat hanya tunggangan, agama, dan adat tradisi hanya dieksploitasi dan dikomoditaskan. Salah satu akibatnya, etnisitas menjadi sama dengan kekerdilan, identitas keagamaan menjadi eksklusivisme. Begitu kita berpikir tentang pluralisme, maunya ayam kita tak anggap ayam, melainkan kita sebut hewan saja…Ayam tak boleh menonjolkan keayamannya.

Bahkan ayam harus disembunyikan penampakan ayamnya. Ayam harus agak kebebek-bebekan, bebek harus keangsa-angsaan, kerbau harus jangan terlalu jelas kerbaunya,lembu kalau bisa mirip kerbau, anjing seyogianya mirip manusia dan manusia bagus kalau seperti anjing. Orang tidak biasa menjadi dirinya sendiri dan tak terbiasa melihat orang lain sebagai diri orang lain. Orang hanya siap melihat dirinya dalam keseragaman dengan kebanyakan orang. Orang sakit hati kalau menemukan orang lain tidak seperti dirinya…Karena banyak Orang tidak tahan hati untuk berbeda…

Mungkin kalau saya suka bergurau dengan kambing, para tetangga menyimpulkan saya adalah kambing. Mungkin Kalau saya hadir ke acara silaturahmi Dukun-Dukun Santet, orang menyimpulkan saya sudah murtad dan keluar dari Islam…Padahal saya senang bergaul dengan Setan, saya tidak pernah memusuhi setan, karena antara setan dengan saya sudah ada pemahaman dua pihak bahwa saya tidak mungkin mampu mempengaruhi setan, sementara saya juga Insya Allah tidak akan pernah membiarkan diri saya dipengaruhi oleh setan.

Maka setan lebih merupakan partner dialektika, sebagai kegelapan diperlukan untuk mempertegas cahaya, hitam diperlukan untuk menghayati putih dan warna- warna lain

Comments No Comments »