PACARAN, bagaimana pun modelnya sering dicerca orang. Tapi juga banyak dilakukan orang. Apalagi “penganut agama yang taat” menolak mentah-mentah konsep pacaran yang memang secara eksplisit tak terdapat dalam kitab suci. Hal ini wajar karena kebanyakan stereotip pacaran yang berlaku umum adalah pacaran yang “begituan” - terlepas seberapa gede kadar begituannya. Akibat generalisasi pacaran yang begituan menutup sisi-sisi lain yang patut dikaji, dan diujikan secara obyektif, rasional, tanpa prasangka merendahkan ajaran agama yang kita anut.

Sebagian orang mengklaim bahwa pacaran bisa dikategorikan sebagai ikhtiar untuk mencari jodoh. Hal tersebut didasarkan pada kenyataan bahwa “Tuhan tidak akan mengubah nasib seseorang sampai orang tersebut mengubahnya sendiri”. Tetapi klaim dasar pacaran itu ditentang balik dengan postulat asal kejadian manusia bahwa pada saat Tuhan meniupkan ruh Nya Tuhan telah menentukan rizki, mati, jodoh manusia. Pertanyaannya adalah seberapa kuat pengaruh usaha manusia mengubah nasibnya??? tokh banyak yang berkali-kali pacaran akhirnya nggak jodoh juga dan nggak ada jaminan untuk sukses mendapatkan jodoh dengan pacaran…iyakan? Terus,Jika memang rizki dijatah Tuhan kenapa juga kita disuruh Nya untuk kerja..??.. Andai emang mati di tangan Tuhan, kenapa  Tuhan menghendaki kita menjaga kesehatan, berobat dsb..?? Logikanya kalau kita diam di rumah do’a tanpa usaha rasanya kok Tuhan nggak akan kasih kita rezeki. Jika kita kena sakit lalu diam saja,tentu saja sangat besar kemungkinan Tuhan mencabut nyawa kita. Lalu bagaimana ihwal jodoh ? Apakah jodoh yang katanya udah ditentukan Tuhan bisa datang tanpa usaha ? Apakah pacaran (lepas bagaimana modelnya) bisa dikategorikan sebagai ikhtiar cari jodoh ? Jika tidak, usaha rasional apa yang  bisa kita lakukan ?

Pada dasarnya Tuhan itu Maha Rasional dan DIA gak perlu kayak kita yang sering sok-so’an jadi Tuhan. Buktinya Tuhan Maha Rasional adalah ketika Tuhan mau nurunin hujan perlu proses mendung dulu meski tanpa mendung pun Tuhan kuasa menurunkan gerimis..! atau Waktu Tuhan ingin bikin manusia Dia “meminta bantuan” ke orang tua kita untuk melakukan acara “gituan” dulu, meski Nabi Isa lahir tanpa proses itu, meski ibu Hawa muncul  tak umum. Dan banyak lagi ketidakrasionalan Tuhan menyelingi sunnatuloh untuk sekedar mengingatkan manusia bahwa ada suprarasional di atas rasional.

So, Seandainya kita akhirnya memutuskan untuk pacaran dengan diniatin cari jodoh bukan just for fun, just for sex, ngisi waktu, ikut trend, dsb ..apakah itu bisa “menghalalkan pacaran”??? …Yang jelas Tuhan mengingatkan kita dengan dalil “ jangan mendekati zina “ !

Sebuah masalah besar adalah sebagai manusia yang diberikan nurani (akal budi) dan naluri (nafsu) sangat susah untuk memenuhi “role of game “ itu jika kita mengambil keputusan untuk pacaran….Apalagi di zaman sekarang yang sangat tidak mendukung ajakan Tuhan bahkan malah  memperlebar kesempatan untuk jatuh berzina yang dikhawatirkan oleh Tuhan….

Pergeseran nilai takkan terhindarkan seiring waktu berjalan. Yang dulu dirasa nggak boleh lama lama terjadi juga. yang dulu nggak biasa akhirnya jadi kebiasaan. Makanya ada orang berkata love is kissing, necking, petting and sleeping together.

Pacaran, Awalnya memang adalah ta’aruf (perkenalan) lalu taqorub (pendekatan) akhirnya ta’tubruk (“tubruk” bahasa jawa =tabrak)..dan itu sebuah tahapan terjatuh ke lubang “zina”.

Model pacaran memang sangat bergantung pada kedua belah pihak… pinter-pinterlah me-manage naluri dan nurani.  Akal bisa muncul karena nafsu tapi juga nafsu pun dapat dikendalikan oleh akal. Lalu batasannya apa ? batasannya adalah nurani kita.

Semakin baik hati kita makin sempit batasannya, semakin longgar batasannya berarti hati kita tidak baik. Biar hati nggak rusak kita harus dekat dengan Tuhan karena Tuhan tahu benar ihwal ciptaan-Nya. Makanya, dulu saya pernah protes sama Tuhan kenapa “rasa konak” itu muncul tidak pada saat yang tepat?, mbok ya nanti aja kalo sudah saatnya tiba !(*nikah-red, hahaha) .. tapi Seandainya rasa itu muncul dini sejak masa puber, mbok ya Tuhan kasih fasilitas biar jadi beneran…”

Pertanyaan yang sering saya renungkan adalah apakah rasa itu  gejala prematur dari  mawaddah wa rohmah-nya Surah Arrum ayat 21..?? atau sekedar percikan nafsu manusiawi ? atau derifativ dari “maha kasih sayang” Tuhan ? Wallahu a’lam-cuma Tuhan yang tahu!….Yang jelas, jika “Konak” itu udah muncul pasti sangat susah melawannya, mengendalikannya.Sangat susah untuk menghilangkan keinginannya utk begituan…iya khan?

Finally, saya merekomendasikan kepada pembaca blog ini- yang sudah kadung pacaran, “coba terus diusahain jadi sampai pelaminan… perjuangkan untuk nyampe ke sana.. akhirilah dengan khusnul khotimah (akhir yang baik), be careful ! ati-ati banget jangan sampai terjadi yang dikhawatirkan Tuhan (*zina), perkara putus di tengah jalan karena anda gak menuhin permintaan doi utk “begituan” itu urusan Qodrat Tuhan. Dan bagi yang belum ngerasain, mendingan jangan,Mendingan jangan..! Nanti aja kalo udah nikah…” gitu aja kok repot !

Yaa Rabb maafkan saya,kapan ya saya benar-benar bisa jatuh cinta kepada Mu ?

~~dari catatan tae kucing 2005~~

Regaung Hangrayudhie

22.05.08

Comments No Comments »

Waktu saya nulis ini, alhamdulillah saya masih perjaka dan juga ironis belum merasakan “surga dunia” itu. Ketika saya merenungkan hal ini sangat disayangkan saya belum pernah berhubungan dengan Tuhan. Makanya saya yakin tulisan saya ini akan banyak mengandung sesuatu yang nggak-nggak, memuat hal hal yang tidak valid karena tidak didasarkan pada pengalaman, apalagi fakta.

Mungkin ini hanya sebuah angan angan seorang yang berfikiran ngeres dan merindukan Sang Pencipta pikiran ngeresnya itu. Tapi biarlah yang penting saya nulis ini sebagai perwujudan keinginan saya mengalami kedua hubungan itu dan semoga gambaran yang saya dapat mengenai kedua hubungan di atas bisa benar adanya atau bahkan lebih hebat dari gambarannya.

dalam sebuah buku yang saya pernah baca,seorang Sufi berkata “ ketika saya bermakrifat dengan Tuhan rasanya seperti berhubungan badan dengan istri saya”. kata-katanya Itulah salah satu dasar mengapa saya memberanikan diri membuat judul tulisan ini seperti tertulis di atas. karena dimanapun tidak akan ada seorang WTS yang berkoar “ ketika saya melayani langganan saya, saya ingat Tuhan”.

sebuah tamsil yang penuh makna itu menggetarkan kita untuk bertanya ada apa dengan Tuhan ?

Kok orang yang mempunyai pengalaman bermakrifat dengan Tuhan menggambarkannya dengan hubungan seks ?

Oke,sekarang marilah kita bersama sama mencoba memaknai perkataan sufi tadi. Kedua hubungan di atas yakni hubungan seks dan “berhubungan dengan Tuhan” adalah puncak kenikmatan yang luar biasa. Kata pengantin baru, “Begituan” itu lebih enak dilakoni dari pada diomongin.

Dalam hubungan ini semua jadi mungkin, yang Sakit nggak terasa sakit, yang perih berubah menjadi enak, yang capek tapi memanjakan, dsb.

Begitu juga kenikmatan yang dicapai ketika orang mencapai makrifat dengan Tuhan. Digambarkan bahwa para pecinta Tuhan tidak merasa lapar walau nggak makan berhari hari, nggak sakit walau kena wabah. Saking nikmatnya mereka dengan hubungannya, apapun terasa nikmat. Masya Allah… nikmatnya…Jadi jangan heran banyak orang yang merasa sudah bermakrifat denganTuhan maka dia sudah tidak seperti manusia.

Yang kedua adalah penyatuan dua dimensi. Ketika kita sedang berhubungan seks dengan istri, disitu sebenarnya terjadi penyatuan dimensi yakni dimensi fisikal dan dimensi emosional. Hubungan seks bukan sekedar “olahraga fisik” bukan sekedar “gerakan ritmik” tapi lebih dari itu ia adalah sebuah terapi emosional. ia melibatkan kekuatan emosi, ia menyatukan dimensi lahiriah (fisik) dan dimensi ruhiah (emosi).

Ketika terjadi “fhisicaly penetrasi” saat bersamaan pula terjadi “peleburan emosi” kedua manusia. …Saya kira wajar saja jika suatu saat istri nolak gituan jika sedang tidak mood. Disitulah bukti bahwa gituan bukan sekedar acara ini dimasukan itu, tapi justru faktor emosilah yang berperan penting. Jika seandainya “gituan” lebih ditonjolkan pada kenikmatan fisik saja maka kita nggak perlu beristri, banyak alternatif yang bisa menyebabkan ejakulasi tapi hanya dengan istri kita mengalami orgasme psikologis… Bahkan jika lelaki “njajan lonte” pun mereka nggak asal, mereka pilih dulu yang sreg. ‘Sreg’ itulah dimensi non fisik. Jadi jangan gituan kalo tidak mood, sia sia hanya buang tenaga dan tidak mendapatkan kepuasan yang sesungguhnya. Begitu juga makrifat dengan Tuhan, disitu terjadi peleburan dua dimensi, dimensi ruhiah dan lahiriah. dimensi empiris dan supra empiris, dimensi nyata dan gaib. Walaupun sebenarnya peleburan dalam hubungan dengan Tuhan tidak benar-benar satu. Kita sebagai ciptaan Nya tidak mungkin bisa dekati sang Pencipta secara total. Mendekat tapi tidak bisa menyentuh…Sebagai tamsil adalah Lilin. Jika kita mendekatkan lidi ke lilin maka lidi itu akan seperti bercahaya. Padahal sebenarnya lilin lah yang bercahaya. Lidi terasa hangat padahal lilinlah yang panas. Semakin dekat lidi ke lilin maka makin banyak sifat sifat lilin yang dipantulkan. Tapi lidi itu nggak bisa benar benar nempel ke lilin karena jika lidi sampai nempel ke lilin terbakarlah lidi. Begitu juga manusia, manusia hanya bisa mendekat tidak bakal bisa menggapai.

Jika ada orang yang berkata “saya sudah bisa menemukan Tuhan” maka sebenarnya Tuhan yang dia temukan bukanlah Tuhan. Tuhan tak dapat tercapai oleh manusia. Kita perlu mendekat ke Tuhan agar kita bisa memancarkan kembali nilai nilai Ketuhanan.

Ketiga adalah keduanya sama sama hubungan yang sirri, yang paling privat, yang paling pribadi…. Ketika kita berhubungan seks dengan istri kita ada tuntutan untuk menjaga rahasia kamar. Begitu juga dengan hubungan dengan Tuhan.

Jadikanlah hubungan dengan Tuhan sebagai kegiatan pribadi. Kita beribadah, kita dzikir, kita puasa itu semata mata karena kita memang pengin berhubungan dengan yang menciptakan kita. Orang mau sholat apa nggak itu urusan mereka dengan Tuhan. Kita sebenarnya nggak perlu maksa maksa orang lain untuk melakukan peribadatan.

Dakwah itu sebenarnya ngingetin tok, keputusan menerima dakwah atau nggak itu urusan pribadi masing masing. Bahkan Tuhan pernah menegur Rosul yang mengira bahwa seseorang harus masuk Islam. Tuhan berfirman silahkan yang mau kafir ya monggo yang mau beriman ya silahkan–Kita sebenarnya nggak perlu bikin institusi untuk mengformalkan ajaran Tuhan….Bukankah dengan demikian itu akan menggeser substansi kepercayaan itu sendiri ? Percaya ke Tuhan intinya adalah kesadaran diri akan keberadaan Tuhan (God consciousness). Tuhan nggak butuh kita, kita lah yang butuh Dia. Kepercayaan kepada Tuhan harus bermuara pada perilaku, akhlak, kebaikan Ikhsan. Apa itu ikhsan ? Ikhsan adalah beribadah kepada Tuhan seolah olah kita melihat Nya dan seandainya kita tidak melihat-Nya sesungguhnya Dia melihat Kita. Begitulah sementara sesuatu yang saya peroleh dari membayangkan hubungan seks dan berkhayal hubungan dengan Tuhan.

Mungkin akan berbeda jika kelak saya telah mengalaminya. Itupun ternyata masih tidak bisa dirasakan dalam pola ibadah kita. Kita belum bisa menikmati ibadah, yang dirasa adalah beban.

Kita belum bisa memadukan dua dimensi kehidupan, dimensi akhirat (ruhiah) dan dimensi dunia (lahiriah).

Masih banyak orang yang sholat tapi nggak berfungsi sholatnya, sholatnya belum bisa mencegah kecenderungan kita untuk berbuat kemungkaran. Dan terakhir kita masih butuh paksaan, kita sering harus di opyak opyak untuk berhubungan dengan Tuhan. Kita belum bisa menumbuhkan sikap self conciousness dalam menunaikan perintahNya…….

Besar harapan saya untuk dapat merasakan kenikmatan kedua hubungan itu, yach Hubungan dengan Tuhan dan tentu saja hubungan seks. Saya yakin Tuhan tahu apa yang ada dibenak saya.

Maafkan saya,Yaa Rabb… saya membayangkan yang nggak nggak. x_x

Comments No Comments »

Satu cita-cita itu ialah menjadi kaya. Ada kerbau, ada macan, berang-berang, buaya, cacing, badak dan jutaan macam hewan lagi, tapi cita-citanya sama: ingin terbang dengan pakaian kemewahan.

Macam-macam profesinya, macam-macam permainannya, beragam-ragam kostum dan ayat-ayatnya, namun obsesinya menyatu secara nasional, ialah menjadi kaya. Memang ada klise-klise aplikatif: ingin mengabdi kepada bangsa dan Negara. Ingin berbakti kepada Agama dan masyarakat. Dan mungkin benar awalnya memang bercita-cita seperti itu, tetapi begitu ketemu pintu-pintu gerbang keuangan: mulai penuhlah kepala oleh cita-cita tunggal itu.

Kalau anak-anak kecil dikasih iklim: ingin menjadi dokter, insinyur, Presiden. Tapi ujungnya sama saja, yaitu menjadi kaya. Milih jadi orang kaya meskipun tidak jadi dokter, daripada sebaliknya. Kalau kerja 6 hari menjadi 5 hari, kelak kita runding bagaimana dalam seminggu kita kerja sehari saja dan libur 6 hari, kita sepakati asalkan gaji tetap seperti semula.

Orang memilih tidak kerja tapi dapat gaji daripada kerja tapi tak dapat gaji. Kalau sampai kerja tak dapat gaji maka ayat-ayat tentang hak buruh, HAM dlsb bertaburan di langit dan bumi. Tapi kalau terpaksanya kita balik: tidak kerja tapi dapat gaji, sebenarnya itu yang diam-diam lebih OK dalam hati.

Uang berlimpah jauh lebih menarik dibanding Tuhan. Korupsi jauh lebih dipercaya disbanding hakekat dan metabolisme rejeki. Kalau melebar sedikit: orang diam-diam sudah makin sanggup meragukan Tuhan, tapi tak seorangpun memiliki keberanian untuk meragukan Demokrasi. Orang lebih tertarik pada kekayaan dibanding kesalehan. Orang lebih terpikat oleh uang banyak daripada digniti kepribadian. Orang lebih tergiur pada kejayaan materi dibanding kemuliaan hidup.

*Sejumlah orang pasti akan membantah kalimat-kalimat itu….dan ini, Cheesy


Tentu saja kalau yang dimaksud karier adalah berkuasa, kaya dan terkenal: sudah lama - menurut ukuran saya dengan hidup tempe sambal dan menikmati cuci kaos piring: saya tidak memiliki problem apa-apa. Tapi yang saya maksudkan karier adalah mandat kekhalifahan dengan konten dan skala yang jelas yang sudah lama saya siapkan namun tidak ada gejala bahwa sejarah manusia ini memerlukan kualitas kesejahteraan hidup semacam itu.

Menjadi kaya adalah isi utama kepala manusia Indonesia. Dan untuk itu dipilih cara dan jalan yang paling bodoh dan malas: akting menjadi pemimpin, ustadz, artis, wakil rakyat, lembaga zakat infaq atau apapun. Jangan kawatir, tentu saja orang juga menikmati hubungannya dengan Tuhan, kenyamanan bernasionalisme, kesantunan social, estetika dlsb, tetapi itu semua sekunder. Yang primer di kepalanya adalah harus ada kenyataan bahwa ia berlimpah atau sekurang-kurangnya aman di bidang keuangan. Yang dimaksud aman itu takarannya begini: “Wah, rugi saya, ada proyek basah banget tapi gagal memenangi tender….”
Padahal dia tidak rugi apapun. Tidak rugi pun merasa tidak aman. Aman adalah laba sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya. Dasar moral ilmu ekonomi di seluruh muka bumi ini sejak awal memang curang.

Di luar kaya, unsur lain popular juga: powerfull and famous, berkuasa dan terkenal. Tapi kekuasaan dan popularitas juga membawa visi missinya sendiri: merangsang manusia untuk lebih kaya dan lebih kaya.

Comments No Comments »