Ayam Memang Hewan atau Binatang, tetapi ia tidak sekedar hewan atau Binatang. Ia bahkan punya banyak Indentitas dan kemungkinan eksistensi yang lain. Ayam juga makhluk dunia, warga dunia, bagian dari alam, peliharaan Pak Kardjo, temannya ayam lain, putra atau putrinya bapak ayam, ibu ayam, penghuni kandang ayam …Ayam adalah juga hewan, bukan bebek, bukan angsa, bukan burung, bukan anjing, bahkan bukan juga manusia.
Identitas mana yang primer mana yang sekunder, itu soal cara pandang.
Mana kedirian yang ”sekadar”, mana yang ”bahkan”, mana yang ”utamanya”, itu soal konsep nilai dan bisa berbeda- beda…
Sebuah cara pandang bisa meletakkan ayam sebagai ”sekadar ayam”. Namun cara pandang lain menyebut ”mending ayam”, maksudnya: umpamanya ”dibandingkan manusia”……
Lho kok dibandingkan manusia?
Cara pandang itu menemukan bahwa ayam sangat mungkin lebih berguna bagi kehidupan seluruh makhluk alam semesta ini,sekurang-kurangnya bagi umat manusia,dibandingkan manusia sendiri.
Umpamanya masih lebih baik ayam yang tidak mungkin mencuri manusia dibandingkan ”manusia pencuri ayam”….Bahkan ada cara pandang nilai yang meletakkan ayam di wilayah kemuliaan : segala perilaku ayam, langkahnya, makan minumnya,mati hidupnya, 100% menaati sunnahTuhan atau tradisi penciptaan yang di-set up Tuhan. Ayam sepenuhnya patuh kepada Tuhan, sementara manusia dikasih peluang demokrasi: berpikir sendiri, menentukan sendiri keputusan- keputusan hidupnya…
Maka manusia bergerak ke berbagai kemungkinan arah: ada yang menjadi lebih baik dari ayam, ada yang lebih hina dari ayam.Ayam disembelih saja berguna dan hasil masakannya enak dimakan manusia. Sementara manusia tak enak dimakan dan tidak punya posisi nilai untuk baik disembelih. Ketika ayam disembelih, digoreng atau digodok: itulah puncak kemuliaan kemakhlukannya.
Pendalaman ilmu dan nilai seperti ini bisa kita perluas sampai detail dan beribu-ribu halaman kita hasilkan. Substansi yang akan kita ambil adalah bahwa ayam adalah ayam: ia tidak bisa hanya disebut hewan. Si Abdul, Bambang, John, bukan ”hanya” manusia: ia juga orang Arab, Jawa atau Amerika. Ia juga orang Islam, orang Kristen, atau atheis.Pada mereka juga terdapat berbagai dimensi identitas: etnik, agama, budaya, golongan, jenis, spesies, gen, kelompok,… kata Alquran: syu’ub wa qabail. .. Itulah pluralisme.
Kata Alquran lagi: bersuku-suku berbangsa-bangsa itu tak lain tak bukan untuk berkenalan, berempati satu sama lain, saling menghormati, menyayangi, bekerja sama, menjadi negara, kerajaan, PBB, parpol, ormas, perusahaan, warung, masjid dan gereja, gardu, SMS, cyber world, dan segala macam produk kerja sama kemanusiaan yang lain. Maka lima pilar yang menyangga berdirinya Republik Indonesia– rakyat, kaum intelektual,TNIPolri, kekuatan adat dan tradisi serta sumber-sumber keagamaan–harus diterjemahkan secara matang di dalam budaya dan konstitusi, harus dijadikan pijakan setiap inisiatif transformasi sejarah yang menentukan arah pembangunan di bidang apa pun.
Selama 62 tahun merdeka yang pegang kendali hanya dua : kaum intelektual dan tentara-polisi. Rakyat hanya tunggangan, agama, dan adat tradisi hanya dieksploitasi dan dikomoditaskan. Salah satu akibatnya, etnisitas menjadi sama dengan kekerdilan, identitas keagamaan menjadi eksklusivisme. Begitu kita berpikir tentang pluralisme, maunya ayam kita tak anggap ayam, melainkan kita sebut hewan saja…Ayam tak boleh menonjolkan keayamannya.
Bahkan ayam harus disembunyikan penampakan ayamnya. Ayam harus agak kebebek-bebekan, bebek harus keangsa-angsaan, kerbau harus jangan terlalu jelas kerbaunya,lembu kalau bisa mirip kerbau, anjing seyogianya mirip manusia dan manusia bagus kalau seperti anjing. Orang tidak biasa menjadi dirinya sendiri dan tak terbiasa melihat orang lain sebagai diri orang lain. Orang hanya siap melihat dirinya dalam keseragaman dengan kebanyakan orang. Orang sakit hati kalau menemukan orang lain tidak seperti dirinya…Karena banyak Orang tidak tahan hati untuk berbeda…
Mungkin kalau saya suka bergurau dengan kambing, para tetangga menyimpulkan saya adalah kambing. Mungkin Kalau saya hadir ke acara silaturahmi Dukun-Dukun Santet, orang menyimpulkan saya sudah murtad dan keluar dari Islam…Padahal saya senang bergaul dengan Setan, saya tidak pernah memusuhi setan, karena antara setan dengan saya sudah ada pemahaman dua pihak bahwa saya tidak mungkin mampu mempengaruhi setan, sementara saya juga Insya Allah tidak akan pernah membiarkan diri saya dipengaruhi oleh setan.
Maka setan lebih merupakan partner dialektika, sebagai kegelapan diperlukan untuk mempertegas cahaya, hitam diperlukan untuk menghayati putih dan warna- warna lain

Entries (RSS)