Posts Tagged “catatan pengantar kengeresan masa perjaka”

Waktu saya nulis ini, alhamdulillah saya masih perjaka dan juga ironis belum merasakan “surga dunia” itu. Ketika saya merenungkan hal ini sangat disayangkan saya belum pernah berhubungan dengan Tuhan. Makanya saya yakin tulisan saya ini akan banyak mengandung sesuatu yang nggak-nggak, memuat hal hal yang tidak valid karena tidak didasarkan pada pengalaman, apalagi fakta.

Mungkin ini hanya sebuah angan angan seorang yang berfikiran ngeres dan merindukan Sang Pencipta pikiran ngeresnya itu. Tapi biarlah yang penting saya nulis ini sebagai perwujudan keinginan saya mengalami kedua hubungan itu dan semoga gambaran yang saya dapat mengenai kedua hubungan di atas bisa benar adanya atau bahkan lebih hebat dari gambarannya.

dalam sebuah buku yang saya pernah baca,seorang Sufi berkata “ ketika saya bermakrifat dengan Tuhan rasanya seperti berhubungan badan dengan istri saya”. kata-katanya Itulah salah satu dasar mengapa saya memberanikan diri membuat judul tulisan ini seperti tertulis di atas. karena dimanapun tidak akan ada seorang WTS yang berkoar “ ketika saya melayani langganan saya, saya ingat Tuhan”.

sebuah tamsil yang penuh makna itu menggetarkan kita untuk bertanya ada apa dengan Tuhan ?

Kok orang yang mempunyai pengalaman bermakrifat dengan Tuhan menggambarkannya dengan hubungan seks ?

Oke,sekarang marilah kita bersama sama mencoba memaknai perkataan sufi tadi. Kedua hubungan di atas yakni hubungan seks dan “berhubungan dengan Tuhan” adalah puncak kenikmatan yang luar biasa. Kata pengantin baru, “Begituan” itu lebih enak dilakoni dari pada diomongin.

Dalam hubungan ini semua jadi mungkin, yang Sakit nggak terasa sakit, yang perih berubah menjadi enak, yang capek tapi memanjakan, dsb.

Begitu juga kenikmatan yang dicapai ketika orang mencapai makrifat dengan Tuhan. Digambarkan bahwa para pecinta Tuhan tidak merasa lapar walau nggak makan berhari hari, nggak sakit walau kena wabah. Saking nikmatnya mereka dengan hubungannya, apapun terasa nikmat. Masya Allah… nikmatnya…Jadi jangan heran banyak orang yang merasa sudah bermakrifat denganTuhan maka dia sudah tidak seperti manusia.

Yang kedua adalah penyatuan dua dimensi. Ketika kita sedang berhubungan seks dengan istri, disitu sebenarnya terjadi penyatuan dimensi yakni dimensi fisikal dan dimensi emosional. Hubungan seks bukan sekedar “olahraga fisik” bukan sekedar “gerakan ritmik” tapi lebih dari itu ia adalah sebuah terapi emosional. ia melibatkan kekuatan emosi, ia menyatukan dimensi lahiriah (fisik) dan dimensi ruhiah (emosi).

Ketika terjadi “fhisicaly penetrasi” saat bersamaan pula terjadi “peleburan emosi” kedua manusia. …Saya kira wajar saja jika suatu saat istri nolak gituan jika sedang tidak mood. Disitulah bukti bahwa gituan bukan sekedar acara ini dimasukan itu, tapi justru faktor emosilah yang berperan penting. Jika seandainya “gituan” lebih ditonjolkan pada kenikmatan fisik saja maka kita nggak perlu beristri, banyak alternatif yang bisa menyebabkan ejakulasi tapi hanya dengan istri kita mengalami orgasme psikologis… Bahkan jika lelaki “njajan lonte” pun mereka nggak asal, mereka pilih dulu yang sreg. ‘Sreg’ itulah dimensi non fisik. Jadi jangan gituan kalo tidak mood, sia sia hanya buang tenaga dan tidak mendapatkan kepuasan yang sesungguhnya. Begitu juga makrifat dengan Tuhan, disitu terjadi peleburan dua dimensi, dimensi ruhiah dan lahiriah. dimensi empiris dan supra empiris, dimensi nyata dan gaib. Walaupun sebenarnya peleburan dalam hubungan dengan Tuhan tidak benar-benar satu. Kita sebagai ciptaan Nya tidak mungkin bisa dekati sang Pencipta secara total. Mendekat tapi tidak bisa menyentuh…Sebagai tamsil adalah Lilin. Jika kita mendekatkan lidi ke lilin maka lidi itu akan seperti bercahaya. Padahal sebenarnya lilin lah yang bercahaya. Lidi terasa hangat padahal lilinlah yang panas. Semakin dekat lidi ke lilin maka makin banyak sifat sifat lilin yang dipantulkan. Tapi lidi itu nggak bisa benar benar nempel ke lilin karena jika lidi sampai nempel ke lilin terbakarlah lidi. Begitu juga manusia, manusia hanya bisa mendekat tidak bakal bisa menggapai.

Jika ada orang yang berkata “saya sudah bisa menemukan Tuhan” maka sebenarnya Tuhan yang dia temukan bukanlah Tuhan. Tuhan tak dapat tercapai oleh manusia. Kita perlu mendekat ke Tuhan agar kita bisa memancarkan kembali nilai nilai Ketuhanan.

Ketiga adalah keduanya sama sama hubungan yang sirri, yang paling privat, yang paling pribadi…. Ketika kita berhubungan seks dengan istri kita ada tuntutan untuk menjaga rahasia kamar. Begitu juga dengan hubungan dengan Tuhan.

Jadikanlah hubungan dengan Tuhan sebagai kegiatan pribadi. Kita beribadah, kita dzikir, kita puasa itu semata mata karena kita memang pengin berhubungan dengan yang menciptakan kita. Orang mau sholat apa nggak itu urusan mereka dengan Tuhan. Kita sebenarnya nggak perlu maksa maksa orang lain untuk melakukan peribadatan.

Dakwah itu sebenarnya ngingetin tok, keputusan menerima dakwah atau nggak itu urusan pribadi masing masing. Bahkan Tuhan pernah menegur Rosul yang mengira bahwa seseorang harus masuk Islam. Tuhan berfirman silahkan yang mau kafir ya monggo yang mau beriman ya silahkan–Kita sebenarnya nggak perlu bikin institusi untuk mengformalkan ajaran Tuhan….Bukankah dengan demikian itu akan menggeser substansi kepercayaan itu sendiri ? Percaya ke Tuhan intinya adalah kesadaran diri akan keberadaan Tuhan (God consciousness). Tuhan nggak butuh kita, kita lah yang butuh Dia. Kepercayaan kepada Tuhan harus bermuara pada perilaku, akhlak, kebaikan Ikhsan. Apa itu ikhsan ? Ikhsan adalah beribadah kepada Tuhan seolah olah kita melihat Nya dan seandainya kita tidak melihat-Nya sesungguhnya Dia melihat Kita. Begitulah sementara sesuatu yang saya peroleh dari membayangkan hubungan seks dan berkhayal hubungan dengan Tuhan.

Mungkin akan berbeda jika kelak saya telah mengalaminya. Itupun ternyata masih tidak bisa dirasakan dalam pola ibadah kita. Kita belum bisa menikmati ibadah, yang dirasa adalah beban.

Kita belum bisa memadukan dua dimensi kehidupan, dimensi akhirat (ruhiah) dan dimensi dunia (lahiriah).

Masih banyak orang yang sholat tapi nggak berfungsi sholatnya, sholatnya belum bisa mencegah kecenderungan kita untuk berbuat kemungkaran. Dan terakhir kita masih butuh paksaan, kita sering harus di opyak opyak untuk berhubungan dengan Tuhan. Kita belum bisa menumbuhkan sikap self conciousness dalam menunaikan perintahNya…….

Besar harapan saya untuk dapat merasakan kenikmatan kedua hubungan itu, yach Hubungan dengan Tuhan dan tentu saja hubungan seks. Saya yakin Tuhan tahu apa yang ada dibenak saya.

Maafkan saya,Yaa Rabb… saya membayangkan yang nggak nggak. x_x

Comments No Comments »