Posts Tagged “Kebenaran Yang Kau Yakini Bisa jadi itu Kesalahan”

Tak seorang pun dapat mencapai Kebenaran

sebelum ia sanggup berpikir dengan rasio akalnya dan rasio hatinya bahwa Jalan yang diambilnya itu sendiri mungkin salah ”

( Imam Ali Ibn Abi Thalib kw - kitab Nahj Al balaghah)

Kebanyakan orang berpikir bahwa apa yang mereka yakini saat ini sebagai Jalan kebenaran sudah merupakan kebenaran yang mutlak tanpa mesti diuji lagi kadar kebenarannya..

Keyakinan seperti ini tentu saja semu, karena bagaimanapun orang-orang seperti ini bisa dianggap sebagai orang-orang yang malas tidak mau belajar dari pengalaman, atau orang-orang yang Al-Quran menyebut mereka hanya mengikuti persangkaan khayali dari nafsu mereka..

“Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu (al-zhann) tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran.”

(QS Yunus [10] : 36).

Al-Quran menyebut keyakinan yang tak teruji itu sebagai al-zhann.

Di dalam terjemahan al-Quran-nya; Syeikh Yusuf Ali menerjemahkan kata zhann ke dalam bahasa Inggris dengan kata: fancy,  yang jika diterjemahkan menjadi : khayalan, fantasi, angan-angan atau perkiraan

Sebagian banyak orang masih ada yang mengira bahwa kebenaran bisa diperoleh tanpa harus menggunakan Nalar Akal…Apakah pemikiran seperti ini bisa dibenarkan??..

Apakah mungkin kita bisa mencapai Jalan Kebenaran tanpa mesti mengujinya terlebih dahulu??..padahal Nabi Ibrahim as pun tidak mengenal kebenaran kecuali setelah mengujinya dengan nalar akal.

Apakah bisa seseorang merasa yakin atas jalan keputusan yang diambilnya tanpa mengolahnya terlebih dulu di dalam kepala sekaligus kalbunya ??

*) Belajar Dari Nabi Ibrahim as
Mari kita lihat Al-Quran yang menceritakan bagaimana Nabi Ibrahim as dapat memperoleh kebenaran melalui proses pemikiran :

“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin.

Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.” Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku.” Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat.”

Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar.” Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.

(QS. Al-An’am [6]: 75-79)

*) KERAGUAN UNTUK MENGUJI KEBENARAN

Al-Syahid Murtadha Muthahhari mengatakan : “ Sifat khas kebenaran, tentu saja, ialah bahwa keraguan dan ketidakpercayaaan membantu untuk membuatnya justru semakin jelas. Keraguan mendahului kepercayaan dan kebimbangan melahirkan penelitian.”

Tidak semua keraguan itu buruk, karena sebenarnya ada 2 macam keraguan, yaitu : keraguan konstruktif dan keraguan destruktif.

Keraguan konstruktifadalah keraguan yang muncul dari kesadaran kritis dan hasrat untuk mencari tau dan meneliti keyakinan akan sesuatu yang selama ini dipegangnya. Infrastruktur keraguan jenis ini merupakan sejenis keyakinan akan dirinya sendiri. Ia tidak ingin bergantung pada pendapat orang lain, seolah-olah ia ingin membuang hal-hal yang selama ini diyakininya dengan berusaha mencari banyak pembuktian dengan meneliti setiap detil apa yang dianggapnya benar saat itu.

tetapi sebaliknya, jika suatu keraguan tidak disertai hasrat untuk membuktikan keyakinan yang selama ini dipegangnya, maka keraguan seperti ini adalah keraguan yang destruktif yakni: keraguannya orang yang tidak memiliki pengetahuan apa-apa.

seperti kata pepatah : He who knows nothing, doubts nothing”-> Orang yang tidak tahu apa-apa, juga tidak akan pernah meragukan apa-apa!

Keraguan merupakan awal, bukan akhir kearifan, karena dengan keraguanlah akhirnya kita bisa tiba di gerbang kebenaran. karena,

Siapa pun yang mengawali kehidupan ini dengan keyakinan-keyakinan,

niscaya dia akan mengakhirinya dalam keraguan,

namun jika dia memulainya dengan keraguan-keraguan,

niscaya dia akan mengakhirinya dalam keyakinan.

Dubito ergo cogito; cogito ergo sum - ( I doubt, therefore I think; I think therefore I am) begitu deh yang dikatakan oleh Rene Descartes

Comments No Comments »